Selasa, 04 Januari 2011

Rasionalisasi dan Orientasi Agama; Menguraikan Signifikansi Agama Terhadap Pola Hidup Manusia

Oleh: Zulkarnain

Pendahuluan
Jikalau di dunia ini tidak ada “agama” dan “makhluk”, barangkali dunia ini hanya berisikan lamunan dan imajinasi kosong dari cipta yang tak diciptakan. Pada saat demikian, yang namanya masyarat juga pun tidak hadir menghiasi bumi, dan berbagai terminologi, attribut, serta simbol tidak menjadi citra dari suatu benda. Semua itu ada jika manusia ada. Jika agama ada, maka yang namanya manusia harus diciptakan.

Agama merupakan sesuatu yang paling sakral dalam diri manusia, sehingga jikalau ada pembahasan dan pesoalan menyangkut agama, maka akan menimbulkan kesensitifan pemeluknya. Namun, di lain pihak, agama juga dapat melahirkan perdamain. Tergantung bagaimana penganutnya memanage dan mengamalkan dogma-dogma agama. Di dalam dogma-dogma agama tersebut terdapat berbagai pembahasan dan persoalan menyangkut baik tatanan sosial masyarakat atau relasi antara manusia dengan pencipata, Tuhan. 

Manusia sebagai makhluk paling sempurna di antara segala ciptaan, dapat berinteraksi dengan sesama manusia dan makhluk ciptaan lainnya. Relasi antara manusia dengan manusia yang lain terdapat etika di dalamnya yang mengatur bagaimana hubungan tersebut dapat berjalan harmonis. Begitu juga, relasi manusia dengan Tuhan, posisi manusia sebagai ciptaan mempunyai kedekatan dan kebutuhan psikologis atau spiritual. Untuk memenuhi hal itu, manusia secara implisit telah tertanam dalam dirinya sebuah nuasa ke-Tuhan-an sehingga ada semacam relasi intensional.

Adanya dua element yang berbeda dalam diri manusia telah memberikan paradigma bahwa antara nuansa materi (rasio) dan imateri (soul) sebenarnya harus beriringan dalam melangkah dan menyusuri berbagai fenomena kehidupan. Nuansa spiritual atau psikologis dan lahiriah atau materi tersebut yang nantinya akan memiliki peran penting bagi pola kehidupan manusia kedepan. Adanya dua element tersebut memberi multi-paradigma bagi manusia, sebab ketika manusia mengoptimalkan salah satu potensinya dari hasil olah element di atas, otomatis melahirkan ketimpangan. Oleh karena itu, solusi yang relevan dengan persoalan tersebut yakni adanya sinergitas dan keharmonisan.

Adanya relasi antara agama dan masyarakat sangat memberikan kontribusi bagi stuktur sosial-budaya masyarakat, sehingga dapat menciptakan masyarakat berbudaya dan bersosialis yang bernuansakan agama. Seperti halnya budaya kapitalis yang merajalela di dunia ini. Dunia kapitalis yang penuh dengan berbagai permainan di dalamnya tentunya terdapat peran agama yang memberi kemajuan maupun motivasi hidup untuk terus bekerja dengan berlandaskan agama. Jikalau agama tidak berperan dalam dunia kontemporer ini, apakah yang akan terjadi? Sungguh tidak dapat dibayangkan jika agama nantinya hanya berdiam tanpa ikut campur dalam urusan duniawi, hanya memfokuskan pada dunia akhirat. Persoalannya adalah peran agama terhadap dunia materi, seperti kerja, rumah tangga, sikap dan lain sebagainya, apakah dapat menumbuhkan rasa spirit dan orientasi yang jelas terhadap pekerjaan yang digeluti? Di sinilah persoalan yang kiranya perlu dipecahkan, agar dapat membaca peran agama yang sesungguhnya terhadap dunia materi manusia.

Dunia Asketik Protestan
Dunia Protestan merupakan aliran dalam agama Kristen yang dihasilkan melalui sebuah reformasi besar yang terjadi pada kalangan kerajaan dan dilanjutkan oleh para filosof, seperti Calvin dan Luther. Baik dari aspek ritualnya, gereja Protestan memiliki perbendang yang cukup jauh dengan gereja Katolik. Pandangan para jamaat Katolik melihat Protestan sebagai orang-orang yang keluar dari doktrin-doktri agama Kristen yang benar, sebab mereka tidak mematuhi keputusan yang diintruksikan oleh pemimpin tertinggi, yakni Paus. Sebagaimana gereja Katolik, mereka semua mematuhi apa-apa yang diperintahkan oleh paulus, baik itu perintah yang sifatnya praktis maupun teoritis. 

Orang-orang Katolik cenderung terkungkung oleh kebijakan Paus yang otoriter. Apa yang disampaikan oleh Paus, secara implisit merupakan sabda Tuhan yang tidak dapat disalahkan. Agar semua itu tidak terlalu merembet pada masyarakat Kristen keseluruhan, maka terjadilah kritikan pada masa konsili atau perundingan yang disampaikan oleh Martin Luther untuk memprotes kebijakan Paus yang otoriter. Oleh karena itu lahirlah yang namanya geraja Protestan yang awal mulanya disebabkan adanya protes. 

Dunia Katolik jauh lebih tertutup dari pada dunia Protestan. Hal tersebut jauh bersifat luar dunia (other-wordly) dari pada agama Protestan yang bersifat (inner-wordly). Gereja Katolik yang bersifat other-wordly sebenarnya ingin menyatakan bahwa kepercayaan dan nilai sebagai tujuan dari setiap individu untuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian; dan tujuan utama manusia di dunia hanya dipandang sebagai usaha dan upayan untuk mencari bekal kehidupan yang akan datang, yakni sesudah kematian. Beda halnya dengan gereja Protestan yang lebih bersifat inner-wordly, sifat tersebut secara tidak langsung mengembalikan segala urusan terhadap tangan dan potensi manusia sebagai makhluk tuhan untuk melaksanakan segala tugas-tugasnya di dunia dengan berlandaskan agama.

Ketika menilik pada dunia asketik Protestan atau yang lebih dikenal sebagai inner-wordly sebagaimana dipaparkan sebelumnya, semua itu telah memberikan keleluasaan bagi pemeluk gereja (jamaat) Protestan untuk menginterpretasikan segala apa yang kiranya tidak dipahami, baik itu menginterpretasikan terhadap kitab maupun hirarkhi dalam struktur ke-gereja-an. Dalam hal ini max Weber mencoba untuk memetakan yang namanya konsep otoritas, seperti halnya yang dipegang oleh Paulus. Dalam tesisnya, Weber menyatakan bahwa yang namanya kekuasan, seperti halnya Paulus, yakni memaksakan kehendak atau hasrat personal terhadap orang lain meskipun hal demikian mendapat perlawanan. Ketika teori otoritas Weber diterapkan dalam ranah agama, ternyata hal itu cukup memiliki dampak yang signifikana terhadap pola pikir penganut agama Kristen. Sebab, diantara mainstreem dalam agama tersebut terdapat yang menerapkan apa yang dikatakan Weber "otoritas". 

Dunia asketik ketika ditilik secara etimologi, memang mengandung makna pengasingan diri dari keramian dunia. Akan tetapi, semua itu sedikit bertentangan dengan tendensi yang bersemayam dibalik dunia asketik agama Kristen aliran Protestan. Asketik Protestan merupakan suatu aliran atau sekte yang terdapat dalam mainstreem dari golongan gereja Protestan. Dalam hal ini Weber membedakan sekter tersebut dalam empat sekte, antara lain sebagai berikut: Calvinisme, Metodisme, Pietisme, dan sekte Baptis. Antara empat sekte tersebut terdapat beberapa perbedaan, dan hal itu wajar dalam hal tersebut. Selain hal itu, mereka juga memiliki keterkaitan satu sama lainnya atau relasi intensif. Penuturan Weber dalam hal Protestan sekte ini tidak sampai membahas unsur-unsur dogma dari agama Kristen, tapi hanya terpaku pada persepsi dan doktrin-doktrin dari sekte-sekte tersebut, karena banyak pengaruhnya terhadap dunia praktis masyarakat khususnya dalam bidang perekonomiannya.

Dalam analisisnya terhadap sekte-sekte gereja Protesetan, Weber tidak semuanya melakukan elaborasi dari keempat sekter tersebut, tapi Weber lebih menitik beratkan kepada sekte Calvinisme. Menurutnya, Weber, pengaruh yang lebih besar dari dunia asketik tersebut terdapat dalam doktrin-doktrin sekte Calvinisme. Weber kemudia mengidentifikasi tiga ajaran Calvinis yang memiliki pengaruh besar terhadap praktis individu terhadap dunia ekonomi. Doktrin-doktrin itu ada tiga, antara lain: pertama, adanya alam semesta hanya sebagai peningkatan akan keagungan Tuhan yang hanya memiliki arti jika dikorelasikan dengan tendensi-tendensi Tuhan. Tuhan itu tidak ada demi manusia, tetapi manusia ada demi mingkatkan keagungan Tuhan. Kedua, adanya prinsip bahwa maksud-maksud Tuhan itu hanya ada diluar jangkaun manusia (trancendental), sehingga manusia hanya dapat memahami butiran-butiran dari tendensi tersebut jikalu ia mau. Ketiga, adanya kepercayaan terhadap takdir Tuhan; sebab hanya sebagian kecil dari manusia yang mendapatkan kasih sayang Tuhan yang absolut. Dan apabila ada yang berasumsi bahwa tindak tanduk manusia dapat merubah jalannya takdir tersebut, otomatis hal itu telah memberi anggapan bahwa tindakan-tindakan tersebut memiliki pengaruh terhadap keputusan (judsment) Tuhan yang kudus. 

Penganut Calvinisme memiliki pegangan yang kuat atas ajaran-ajaran dan himbaun-himbaun, sehingga mereka mengikuti doktrin tersebut. Salah satunya yakni menyatakan bahwa Calvinisme menuntut terhadap pemeluknya agar hidur disiplin serta rasional dan berkesinambungan, barangkali demikian itu akan sedikit menghapus dosa-dosa, seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang Katolik yang ingin menebus dosa lewat surat penebus dosa. Bagi penganut Calvinisme, kerja di dunia materil secara implisit menggambarkan penilain terhadap etika positif tertinggi. 

Pengaruh Etika Protestan Terhadap Dunia Kapitalis
Max Weber bisa dikatakan lebih banyak mencurahkan kegelishannya dalam bukunya Etika Prostestan Dan Spirit Kapitalisme yang bersikan tentang pengaruh dari etika Protestan terhadap dunia kapitalis. Kesimpulan khusus dari Protestean Ethic ialah bahwa meskipun orang puritan oleh sebab kepercayaan agamanya, dengan sengaja memilih bekerja dalam suatu panggilan, sifat khusus dari pembagian kerja tersebut menurut kapitalisme memaksa orang modern untuk turut serta melakukan seperti apa yang dilakukan oleh kaum puritan.

The Protestan Ethic dimaksudkan oleh Max Weber sebagai karya yang bersifat programatik. Artinya, sebagai sistem agama yang dapat mengontrol jalannya alur dunia kerja masyarakat yang dapat termotivasi dengan dogma-dogma agama, sehingga meningkatkan dunia kapitalisnya (modal). Sedikit banyak, pengaruh yang ditelorkan oleh spirit roh agama ternyata dapat dianalisis lewat psikologi agama. Dalam teori orientasi agama, peran agama terhadap pola hidup manusia sangatlah banyak sekali, dan hal itu juga dapat bervariasi. Ketika orang yang hidup beragama tersebut melakukan segala aktifitasnya karena murni berlandaskan agama, itu setelah diamati oleh Allport dapat menunjang ketenangan jiwa dan dapat meningkatkan etos kerja. Orientasi intrinsik tersebut telah memberi alur yang jelas bagi pemeluk agama dalam melangkah dan menatap masa depannya. Beda halnya dengan orientasi beragama ekstrinsik yang lebih ekslusif dan cenderung memamfaatkan agama sebagai pemuas pribadinya. Mayoritas dalam kalangan elit politik sering kalai memperalat agama sebagai pelegitimasi tindak tanduknya demi sebuah kepentingan, baik itu golongan, pribadi, atau statusnya di mata masyarakat.

Etika Protestan tidak seperti apa yang digambarkan dalam teori orientasi psikologi agama, tapi dunia etika Protestan lebih memiliki orientasi yang bersifat inner-wordly dan hal itu tidak ada kaitannya dengan hedonisme. Orientasi etika Protestan yakni meningkatkan etos kerja dengan melalui kesetiaan terhadap tugasnya yang dipandang sebagai amanah agama, dan demikian pula mereka secara sistematis mendisiplinkannya untuk mengontrol keinginan fisik dan nafsunya. Dari proses itulah dunia kapitalis dalam masyarakat Protestan cukup berkembang pesat. Karena dari latar agama mereka telah mengajarkan adanya unsur kerja yang lebih dijadikan perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan-nya. Max Weber mencoba memberi deskripsi bagaimana hubungan antara sistem agama dengan sistem ekonomi, yang ia menyatakan bahwa antara dunia ekonomi dan agama agak sulit untuk dibedakan satu sama lainnya, sebab keduanya saling memiliki keterkaitan dan sama-sama dipengaruhi oleh pranata-pranata lain yang membentuk masyarakat yang bersangkutan. Relasi antara sistem agama dan ekonomi memang perlu adanya, sebab disamping agama sebagai pengontrol mekanisme ekonomi, juga mejadi acuan terhadap dunia etik berekonomi, sehingga ada koridor-koridor yang tidak sepatutnya dilalui dalam bekerja maupun lebih spesifik dunia kapitalis.

Sebagaimana dunia kapitalis yang sarat akan kapital didalamnya, baik itu berupa kekayaan barang maupun harta lainya, masih menyisakan sedikit persoalan yang cukup menggelikan dibalik adanya dunia kapitalis tersebut. Dalam hal ini Karl Marx menyatakan bahwa dunia kapitalis hanya dimiliki oleh golongan masyarakat borjuis dan kaum proletar hanya sebagai objek permainan. Teraleniasinya manusia dari produknya sendiri tidak lain faktornya juga karena permainan dunia kapitalis yang memainkan waktu dalam sistem kerja buruh. Meraka merasa terasingkan ketika barang yang dihasilkan oleh kreatifitas sendiri, malah dijual dengan mahal, tapi tidak dapat menikmatinya. Dan hal itu secara tidak langsung menggambarkan adanya keputusan tunggal dari dua pihak yang bernegasi dalam ranah kapitalis-buruh. Marx sendiri mencoba menguraikan alienasi itu dengan menghilangkan sistem kelas dalam struktur masyarakat, meskipun kedengaran sedikit menggelikan. Adanya alienasi itu juga dilatar belakangi oleh faktor finansial yang paling dominan dan kurangnya kebijakan yang sepatutnya didapat oleh kaum proletar atau buruh.

Terlepas dari di atas, etika Protestan yang menjadi semangat kapitalisme ternyata memiliki dampak lain, yakni adanya kepercayaan dan keyakinan kuat terhadap agama. Dan hal demikian oleh Max Weber telah dianalisa mengenai pengaruhnya, etika Protestan, dalam meningkatkan pertumbuhan kapitalisme menunjukkan pengertiannya mengenai pentingnya kepercayaan agama serta nilai dalam membentuk pola motivasional individu dalam tindakan ekonominya. Keyakinan yang ada dalam dunia Protestan tentang kekayaan adalah meningkatkan kemerosotan moral. Hanya saja jika orang tersebut menganggap bahwa kekayaan itu sebagai salah satu jembatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu mereka tidak akan bermalas-malasan dan yang jelas disamping kekayaan sebagai penanda kesuksesan profesi seseorang juga sebagai bentuk atau wujud nyata dalam menahan hawa nafsu dan pengaruh hedonisme. 

Pengaruhnya terhadap dunia kapitalis yang paling dominan dari dunai etika Protestan yakni adanya rasionalisasi, metodis, direncanakan secara sadar, dan cermat. Dengan kata lain, suatu karya akan yang rasional itu sebenarnya berproses dari yang namnay irrasionalitas; mistikisme yang dilahirkan oleh Luther dan Calvin, itu telah memberikan karya yang rasioanal, sehingga landasan utama dari dunia kapitalis yakni adanya rasionalitas kerja. Landasan inilah yang nantinya menjadi mobilisasi dari alur dunia kapitalis yang lebih menitik pada kerasionalitasan, baik itu dalam ranah penggunaan kekayaan secara rasional dan penggunaan tenaga kerja pula secara rasional. Adanya rasionalitas dalam dunia kapitalis yang dihasilkan oleh agama telah memberi sistem yang penuh rasionalitas dalam bertindak.

Kesimpulan
Pada pembahasan mengenai Rasionalisi Dan Orientasi Agama dapat ditarik beberapa poin yang cukup penting untuk dijadikan benang merah dari pembahasan tersebut. Di antara poin-poin itu antara lain sebagai berikut:
Pertama, dunia asketik Protestan yang berawal dari sebuah reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther sebagai pelopor pertama yang membawa gereja (jemaat) Protestan. Adanya Protestan itu sendiri merupakan sebuah tindakan protes atas kebijakan gerja Katolik yang terlalu otoriter, sampai kitab suci yang boleh memegang hanyalah para orang-orang gereja dan selain mereka tidak diperbolehkan. Adanya sikap seperti itu dari Katolik telah menimbulkan sikap kritis dari gerakan reformasi sehingga terciptakan Protestan yang diawali dengan 99 protes yang ditulis oleh Luther dan ditempelkan dipintu gerbang geraja Katolik.
Dunia asketik Protestan lebih bersifat inner-wordly dan hal itu menitik beratkan pada dunia sebagai jembatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sehingga adanya dunia kemajuan disektor ekonomi itu juga akibat dari imbas dunia asketik Protestan. Beda halnya dengan Katolik yang bersifat other-wordly yakni menitik beratkan terhadap dunia pertapa yang sangat ekslusif sehingga apa-apa tidak dapat diinterpretasikan. Artinya, lebih tertutup dan otoritas tertinggi dipegang oleh paulus atau paus, sehingga mengasosiasikan dirinya sebagai Tuhan.
Kedua, pengaruh etika Protestan terhadap dunia kapitalis sangat besar sekali. Salah satu landasan yang dihasilk oleh Luther dan Calvin dalam hal ini yakni adanya rasionalitas dalam segala hal. Dan hal itu dijadika landasan dalam melangkah oleh para kapitalis yang segala tindak tanduknya harus dikerjakan secara rasioanal.
Etika Protestan dalam hal ini memberikan motivasi bagi dunia kapitalis agar tindakan atau etos kerja yang meraka lakukan semuanya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Beda halnya dengan hedonisme, etos kerja disini tidak lantas menuruti hawa nafsunya sendiri, malainkan menahan hawa nafsu personal dan lebih mempergunakan kekayaan untuk kepentingan yang rasioanal metodis.

Daftar Pustaka
King, dan Cuzzort, Kekuasaan Birokrasi, Harta Dan Agama. Di Mata Max Weber Dan Durkheim, terj. Mulyadi Guntur Waseso, Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya, 1987.
Lavine, T.Z., Marx Konflik Kelas dan Orang yang Terasing, terj. Andi Iswanto dan Deddy Andrian Utama, Yogyakarta: Jendela, 2003.
Crappas, Robert W., An Introduction to Psychology of Religion, terj. A. M. Hardjana, Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Giddens, Anthony, Kapitalisme Dan Teori Sosial Modern. Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, Dan Max Weber, terj. Soeheba Kramadibrata, Jakarta: UI-Press, 1986.
Wrong (Ed.), Dennis, Max Weber Sebuah Khazanah, terj. A. Asnawi, Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2003.
S. Turner, Bryan, Agama Dan Teori Sosial. Rangka Pikir Sosiologi DAlam Membaca Eksistensi Tuhan Di Antara Gelegar Ideologi-Ideologi Kontemporer, terj. Inyiak Ridwan Muzir, Yogyakarta: IRCiSoD, 2006.
_____________, Orientalisme, Posmodernisme, Dan Globalisme, Terj. Eno Syafrudien, Jakarta: Riora Cipta, 2002.
Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern 1, terj. Robert M. Z. Lawang, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;